Selamat kampong adalah tradisi turun-temurun yang dilaksanakan mengikuti pergantian musim tanam atau perubahan angin, sebagian dilatarbelakangi masa-masa paceklik di tanah Arab yang terjadi di bulan Safar mengikuti sejarah tradisi merujuk pada tradisi
Setelah masyarakat kampung di dusun Kepayang (5/2), Selamat Laut di Sijok (11/3), giliran masyarakat kampong Batu Itam yang melaksanakan Selamat Kampong. Senen depan (28/3) giliran Desa Batu Itam yang menggelar Selamat Kampong. Doa bersama untuk keselamatan kampong ini dipimpin langsung dukun kampong Turyadi bersama dukun mudak di Balai Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk. 12 Maret 2017 yang dihadiri pula tokoh adat, tokoh agama di Desa Batu Itam. Hadir dalam acara Kepala Desa Batu Itam, Mulkan dan sejumlah perangkat desa Batu Itam.
Menurut dukun kampong Turyadi, selamat kampong ini biasanya dilaksanakan di bulan ketiga atau memasuki bulan keempat kalender Masehi. “ Ini dilakukan tidak terlepas dari perjanjian antara umat (kehidupan manusia) dan sakai ( kehidupan roh halus) “ katanya. Menurut dukun kampong Turyadi, hubungan dua alam antara dunia lahirilah dan dunia ghaib ini yang membuat dukun kampong dunia harus memiliki pengetahuan perdukunan dari dua aliran yakni aliran perdukunan setara guru dan malaikat.
“ Kalau dikaitkan dengan batas wilayah perdukungan (batas desa) menerapkan aliran perdukunan setara guru. Kalau di Balai Desa (12/3) lalu makai aliran malaikat” kata Kik Dukun. Dari akibat yang timbulkan bisa diketahui apakah disebabkan penyakit itu bisa diobat dengan cara perdukunan setara guru atau malaikat sehingga tak jarang seorang dukun kampung dituntut untuk menguasai dua aliran perdukunan. “Kalau hanya akibat hujan panas, cukup dengan meminum air tawar “
Wilayah perdukun Batu Itam dipimpin Turyadi sudah berlangsun sekitar empat tahun menggantikan dukun kampong Kik Husin yang meninggal dunia. Karena Kampong Batu Itam tidak bisa menumpang ke dukun kampong lain, maka Turyadilah yang menggantikan kedudukan Kik Husin
Turyadi menekankan agar tradisi semacam jangan sampai ditinggalkan karena setiap wilayah punya kekuasaan masing-masing seperti halnya didunia nyata. Ia menyayangkan jika ada yang memasuki wilayah tetapi tidak meminta izin dengan yang punya wilayah apalagi tujuannya ingin merusak tatanan. Batas wilayah itu dapat dilihat dari aliran sungai seperti aliran Aik Resak yang membatasi kampong Batu Itam, Aik Rembikang dan Suak begitupun aliran Sungai Kubu membatasi Kampong Batu Itam dan Kampong Aik Sagak.
Seperti halnya Desa Sijuk, bulan April nanti Desa Batu Itam juga akan menggelar tradisi Selamat Laut yang dilaksanakan diakhir musim barat dan memasuki musim timur. “ Biasanya ketika pergantian musim itulah banyak penyakit terbawa angin laut masuk ke darat . Ini seperti membersihkan kampung atau mengunci. Sebutan lainnya melepas balak “ kata Turyadi. Tradisi selamat laut berawal merujuk pada tradisi perdukunan di Kampong Ulim (fiet)